Pada dasarnya, kita adalah kita

Kita sering sekali mendengar banyak orang yang mengomentari kehidupan orang lain. Ketika sedang berkumpul bersama teman-teman, di berita atau di internet, saya hampir dengan mudahnya menemukan artikel atau mendengarkan pembicaraan orang lain berpendapat mengenai kehidupan orang lain. Ada orang yang cenderung menjelekkan orang lain, membicarakan aib orang lain, atau justru memuji dan mengagumi orang lain. Salah satu pembicaraan yang sering saya dengar adalah orang yang cenderung iri dengan kehidupan orang lain. Ada orang-orang yang menunjukkan secara terang-terangan bahwa mereka iri dengan mengucapkan kata-kata seperti; “Aku iri banget sama si A, dia bisa menikah sama laki-laki yang sempurna banget” atau “Aku iri deh sama dia, aku pingin banget punya kehidupan kaya dia”, dsb. Ada juga orang yang tidak mengatakan secara langsung bahwa mereka iri, tetapi dari kata-kata yang diucapkannya mengandung arti tersirat bahwa mereka iri, seperti; “Enak ya jadi dia, punya karir yang bagus, badan yang bagus, bahkan suami yang sempurna” atau “Punya kehidupan kaya dia enak ya”, dsb.

Sebenarnya, iri akan kehidupan seseorang adalah suatu hal yang wajar. Pada dasarnya, setiap orang mempunyai emosi dan iri merupakan bagian dari emosi tersebut. Iri juga belum tentu merupakan hal yang tidak baik, karena ada orang-orang tertentu yang justru karena rasa irinya memotivasinya untuk menjadi sukses.  Kalau memang kehidupan orang lain dapat memotivasi setiap orang untuk menjadi sukses itu bagus, tapi bagaimana kalau kebalikannya? Apakah benar rasa iri selalu bisa memotivasi orang lain untuk menjadi semakin maju? Saya jadi teringat tentang artikel yang pernah saya baca serta kata-kata yang sering saya dengar jika orang membicarakan tentang rasa iri, yaitu rasa iri merupakan bentuk rasa kurang bersyukur seseorang akan apa yang dimilikinya. Beberapa orang merasa iri karena ia merasa kehidupan yang dimiliki oleh orang lain lebih baik dari mereka atau kehidupan yang mereka inginkan tetapi mereka sendiri tidak bisa mencapainya. Akan tetapi, hal tersebut membuat saya berpikir apakah kehidupan orang yang membuat kita iri benar-benar lebih baik daripada kehidupan kita?

Suatu hari, saya sedang menghabiskan waktu makan siang bersama teman-temanku. Saat itu, kita sedang asik menghabiskan makan siang masing-masing sambil asik berbincang-bincang. Di tengah pembicaraan, temanku tiba-tiba menceritakan tentang salah satu klien. Ia mengatakan bahwa klien tersebut sangat beruntung. Ia mempunyai suami yang pengertian dan pekerja keras. Sejak awal klien tersebut bukan merupakan pekerja keras, sehingga mempunyai suami yang pengertian, pekerja keras, dan dapat menghidupi keluarganya merupakan suatu keberuntungan. Ia tidak perlu menghabiskan waktu untuk bekerja dan dapat menggunakan waktunya dengan bebas dan santai. Suaminya juga merupakan dokter kecantikan dan mempunyai klinik sendiri. Oleh karena itu, ia bisa dan sering melakukan perawatan kulit. Temanku mengatakan bahwa dari awal perawakan klien tersebut memang sudah bagus, ditambah semua perawatan yang dilakukannya, ia menjadi semakin menarik dan menawan. Temanku juga menambahkan bahwa klienku tersebut mempunyai kehidupan yang cenderung santai. Ia juga tidak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga karena ia mempunyai banyak pembantu. Setiap hari ia tidur lebih pagi dan bangun lebih siang dari kebanyakan kita. Mendengar segala pernyataan temanku tersebut membuat temanku yang lain menjadi sedikit iri. Ia menyetujui pendapat temanku yang mengatakan bahwa klien tersebut sangat beruntung. Temanku lainnya juga menanggapi dengan sedikit bercanda dan mengatakan bahwa hidup agak tidak adil, ketika orang yang tidak suka bekerja justu beruntung dengan mendapatkan suami yang bisa mengerti dan mengayomi, sedangkan kita malah harus bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Mendengar pembicaraan tersebut, saya malah berpikir sedikit berbeda dari mereka. Mungkin saya yang aneh, tetapi saya malah berpikir kehidupan seperti itu malah cenderung mendengar membosankan. Memang mungkin mempunyai banyak uang tanpa harus bekerja keras merupakan hal yang menyenangkan, tetapi menurut saya, hidup terlalu santai juga cenderung membosankan, apalagi bagi orang-orang yang sudah terbiasa bekerja keras. Saya jadi teringat kenalan saya cenderung stress karena suaminya tidak mengizinkannya untuk bekerja.

Contoh di atas memperlihatkan bahwa sebenarnya hal yang menurut orang lain indah dan baik belum tentu indah dan baik bagi semua orang, bahkan bagi orang yang menjalaninya. Sebagai contoh, orang yang suka naik gunung , cenderung iri melihat orang yang sering naik gunung dan ingin mempunyai kehidupan seperti itu, sedangkan orang yang tidak suka suka naik gunung, justru bersyukur jika dia tidak harus sering-sering naik gunung. Hidup itu seperti koin, mempunya dua sisi. Hal yang menurut orang lain baik atau menyenangkan, belum tentu baik atau menyenangkan bagi orang lain. Seberapa baik atau menyenangkannya hidup itu sendiri juga bukan ditentukan dari berapa banyak orang yang mengatakan bahwa hidup itu menyenangkan tetapi dari orang yang menjalaninya sendiri. Banyaknya orang yang mengomentari kehidupan seseorang mungkin dapat mempengaruhi pandangan orang itu akan hidupnya, akan tetapi hanya mempengaruhi, yang dapat menentukan penilaian atau pandangan orang terhadap dirinya sendiri, tetap hanya orang itu sendiri. Sebagai contoh, orang yang tidak suka makan pedas tidak akan makan makanan pedas, sejauh apapun orang mempromosikan makanan pedas tersebut. Pendapat orang akan enaknya rasa pedas mungkin akan mempengaruhinya untuk mencoba atau memakan makanan pedas, akan tetapi yang memutuskan bahwa makanan pedas itu enak atau tidak , atau memutuskan akan memakan makanan tersebut atau tidak, tetap orang tersebut, bukan orang lain.

Selain itu, hal yang kita liat dari luar belum tentu yang sebenarnya terjadi. Kita mungkin melihat kehidupan seseorang menyenangkan karena banyak uang. Kita juga melihat bahwa orang tersebut selalu bergaya dan terlihat bahagia. Akan tetapi, kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar orang itu rasakan, tidak menutup kemungkinan bahwa itu semua hanya topeng, bahwa sebenarnya ia tidak merasa bahagia. Hal tersebut dapat kita analogikan seperti ketika kita melihat semangka. Semangka mempunyai warna hijau, bagi orang-orang yang baru pertama kali melihat, mungkin mereka tidak menyangka bahwa sebenarnya di dalamnya berwarna merah atau kuning. Sekarang banyak kasus yang memperlihatkan pasangan terlihat mesra dari di social media , tetapi beberapa saat kemudian putus atau cerai. Jadi, sebenarnya kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan seseorang. Oleh karena itu,  sebenarnya kita tidak perlu merasa iri akan orang lain. Setiap orang punya kehidupannya masing-masing dan yang benar-benar tahu atau mengenal kehidupan seseorang hanyalah Tuhan dan orang yang menjalaninya sendiri.  Hal yang menurut kita enak, juga belum tentu enak menurut pandangan orang itu sendiri. Hal yang terlihat baik atau enak juga belum tentu enak jika dijalani, bisa saja bagus atau enak karena kelihatan dari jauh. Sebenarnya, tidak penting berapa banyak orang yang berkomentar akan kehidupan kita, yang penting adalah bagaimana kita melihat kehidupan kita sendiri. Selama kita nyaman dan bahagia menjalaninya, ya dijalani, dan disyukuri, walaupun orang berkata sebaliknya.




Comments

Popular posts from this blog

Hari Ini Adalah Hadiah yang Harus Dinikmati

Terima Kasih Tubuh

Langkah Selanjutnya Setelah Mengambil Keputusan (Part 1)