Memantaskan Diri Tidak Hanya untuk Para Single

Banyak orang yang mengatakan bahwa masa single atau jomblo merupakan masa memantaskan diri. Banyak yang mengatakan bahwa seseorang seharusnya berusaha semakin memantaskan diri sambil (ketika) menunggu bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat, tetapi sebenarnya memantaskan diri tidak harus sewaktu single, memantaskan diri seharusnya dilakukan seumur hidup, termasuk pada saat sudah mempunyai pasangan atau menikah. Misalnya, ketika berpacaran seseorang seharusnya memantaskan diri supaya bisa menjadi pacar yang semakin baik atau sebagai persiapan untuk menjadi suami atau istri yang baik. Ketika menikah seseorang juga seharusnya semakin memantaskan diri menjadi istri yang semakin baik atau kelak menjadi orang tua yang baik. Hanya saja memantaskan diri ketika single dengan memantaskan diri ketika sudah berpasangan sedikit berbeda.

Ketika single kita lebih bertanggung jawab pada diri kita sendiri, proses memantaskan diri juga sesuai dengan pilihan atau keinginan kita sendiri. Tujuan memantaskan diri juga sesuai dengan yang kita inginkan, dalam kasus-kasus tertentu disesuaikan dengan kriteria jodoh yang mau didapatkan. Sebagai contoh, ketika ingin mempunyai pacar yang pemain basket, maka kita sendiri memutuskan bahwa setidaknya kita harus punya pengetahuan tentang basket, jadi ketika bertemu bisa mempunyai topik bicara ketika bertemu. Pada saat itu, kita yang memutuskan sesuai dengan yang kita inginkan. Akan tetapi, ketika kita sudah mempunyai pasangan atau keluarga maka biasanya seseorang harus lebih banyak berkompromi, memantaskan diri disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan dari pasangan atau keluarga. Misalnya ketika mempunyai anak, maka kita sendiri ingin menjadi lebih sabar supaya bisa menjadi orang tua yang lebih baik, dan ketika ada tuntutan anak, kita biasanya juga menyesuaikan diri dengan tuntutan anak. Tuntutannya juga menjadi lebih real karena ada tuntutan langsung. Ketika misalnya dulu lebih suka pulang malam dan tidak bisa masak, maka ketika menikah lebih berkompromi dengan pulang lebih pagi dan belajar memasak.


Walaupun kebanyakan memantaskan diri dilakukan demi orang lain, tetapi bukan berarti seseorang berubah menjadi orang lain, atau benar-benar mengikuti keinginan orang. Misalnya jika suami akuntan, maka dia juga menjadi akuntan, atau ketika pasangan model maka ia juga menjadi model. Proses memantaskan diri memang mungkin tidak menyenangkan, akan tetapi seharusnya kita lakukan karena kita mau melakukannya. Kita mau melakukannya juga demi diri kita sendiri bukan hanya demi orang lain. Sebagai contoh, walaupun kita berubah demi orang lain, tetapi kita sendiri yang ingin berubah agar keluarga kita bahagia dan ketika keluarga bahagia maka kita pun menjadi bahagia. Ketika kita berubah atau memantaskan diri demi orang lain tetapi kita tidak senang, tidak bahagia, sangat terpaksa, dsb. Maka kita harus bertanya lagi pada diri sendiri apakah kita benar-benar memantaskan diri atau memaksakan diri? Jika jawabannya memaksakan diri, maka mungkin kita harus mempertanyakan kembali hubungan yang kita jalani, apakah benar-benar yang kita mau atau yang terbaik untuk kita atau tidak. Bukankah kita ingin mendapatkan pasangan yang bisa menerima kita apa adanya?

Comments

Popular posts from this blog

Hari Ini Adalah Hadiah yang Harus Dinikmati

Terima Kasih Tubuh

Langkah Selanjutnya Setelah Mengambil Keputusan (Part 1)