Beriman, Mudah untuk Diucapkan tetapi Sulit untuk Benar-Benar Dilakukan
Mendengar kata beriman, mungkin banyak orang yang
mengkaitkannya dengan kata percaya. Percaya bahwa sesuatu (yang kita harapkan)
akan terjadi, tetapi sebenarnya beriman bukan hanya sekedar percaya. Beriman
berhubungan dengan sabar, setia, dan percaya. Seseorang biasanya lebih mudah
mengucapkan atau menyarankan untuk beriman tetapi sulit untuk benar-benar bisa
melakukannya, karena beriman bukan hanya sekedar percaya sesuatu yang
biasa-biasa saja untuk terjadi tetapi mempercayai sesuatu yang sulit atau
bahkan tidak mungkin terjadi untuk terjadi. Oleh karena itu, biasanya membutuhkan kesetiaan dan kesabaran
(yang luar biasa). Ketika mengharapkan sesuatu yang besar, terutama yang
kemungkinan terjadinya kecil, biasanya banyak sekali hambatan atau kesulitan
yang dihadapi, misalnya banyak orang yang (terutama orang-orang yang terdekat)
mengatakan untuk menyerah. Sebenarnya maksud mereka baik yaitu untuk membuat
kita tidak terlalu berharap sehingga ketika tidak benar-benar terjadi tidak
akan sakit, karena sebenarnya beriman juga mempercayai sesuatu yang tidak
pasti. Tidak ada orang yang bisa 100% memastikan bahwa sesuatu yang kita imani akan
benar-benar bisa terjadi dan ketika kita sudah menaruh harapan yang sangat
besar bahwa itu akan terjadi, tetapi ternyata tidak terjadi, maka itu bisa
menjadi sakit sekali.
Akan tetapi, sebenarnya itulah seni dari beriman. Ketika
sesuatu yang kita imani adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, maka sebenarnya
itu bukan beriman tetapi secara tidak langsung adalah proses menunggu, Menunggu
sesuatu untuk terjadi. Menunggu saja sebenarnya juga bukan proses yang
menyenangkan, apalagi beriman. Walaupun beriman adalah sesuatu yang tidak
pasti, akan tetapi beriman memberikan seseorang suatu pengarapan, dan
pengharapan tersebut sebenarnya yang membuat seseorang tetap bisa bertahan
bahkan sukses hingga akhirnya. Pengharapan tersebut membuat seseorang
termotivasi untuk terus sabar setia, berusaha, dan berjuang terhadap hal yang
mereka imani tersebut. Ketika seseorang bermimpi atau berharap saja sudah tidak
berani, bagaimana mereka bisa mencapai hasil nyata yang sesuai atau di luar
mimpi mereka? Sehingga sebenarnya ketika seseorang mengatakan bahwa ia sudah
beriman, tetapi terus menurunkan standar mereka, atau mengimani sesuatu yang
sudah pasti, atau terus menerus mengeluh, hampir menyerah, bahkan tidak percaya
dan tidak sabar, bahwa hal yang mereka harapkan akan terjadi, apakah hal
tersebut merupakan bagian dari beriman?
Comments
Post a Comment