Melihat ke Diri Sendiri dengan Cara Pandang Kita Terhadap Orang Lain

Di Indonesia ada banyak sekali pepatah yang terkenal. Salah satu pepatah yang terkenal adalah rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput sendiri. Kita sering kali mudah melihat kesuksesan atau keberhasilan seseorang, bahkan mungkin kita cenderung membandingkan diri kita sendiri dengan orang tersebut. Kita sering merasa bahwa orang lain jauh lebih hebat atau lebih baik dari kita. Misalnya ketika kita berpikir seandainya aku bisa sesukses dia, seandainya aku bisa sekurus dia, seandainya aku bisa serajin dia, dan berbagai macam seandainya yang lain. Tidak jarang juga kita berpikir bahwa orang yang sukses atau berhasil tersebut, dapat meraih kesuksesan dalam waktu yang singkat. Rasanya baru kemarin kita masih melihat dia belum punya pacar, eh ketika kita melihatnya lagi, ternyata sudah bertunangan atau sudah menikah. Terakhir kali kita melihat seseorang masih menjadi pegawai tingkat bawah, ketika kita melihatnya lagi sudah menjadi manager atau bahkan general manager. Tidak jarang kita merasa kagum atau iri akan keberhasilan atau kesuksesan yang diraih orang lain yang seolah-olah diraihnya dengan cepat. Tidak jarang juga kita merasa bahwa suatu hal yang wajar jika seseorang tersebut sukses atau berhasil, terutama jika sejak dulu kita sudah memprediksi bahwa orang tersebut akan berhasil. Terkadang kita mudah untuk melihat hal-hal seperti itu (yang cenderung positif) pada diri orang lain, tetapi kita sulit melihat hal-hal seperti itu di diri kita sendiri, terutama ketika kita menghadapi begitu banyak tantangan dan hambatan dalam hidup kita.

Ketika menghadapi begitu banyak tantangan dan hambatan, kita akan lebih mudah untuk menyerah dan mengeluh, serta melihat hal yang negatif dibandingkan kesuksesan atau hal positif yang akan dicapai nantinya. Padahal, ketika kita kagum atau iri terhadap orang lain yang menurut kita sukses, belum tentu orang tersebut meraih kesuksesan dengan mudah, Tidak menutup kemungkinan bahwa orang tersebut bahkan menghadapi lebih banyak tantangan atau hambatan dibandingkan diri kita sendiri. Ada banyak orang-orang sukses yang harus gagal atau ditolak berkali-kali sebelum akhirnya bisa sukses. Sebagai contoh, J.K Rowling yang harus ditolak beberapa penerbit buku sebelum akhirnya dapat menerbitkan Harry Potter dan menjadi sukses. Jack Ma harus ditolak kerja berkali-kali bahkan ditolak kuliah, sebelum akhirnya dapat mendirikan Ali Baba dan menjadi orang yang sukses serta salah satu orang kaya di Cina.


Ketika kita melihat orang lain yang sukses, kita cenderung fokus akan kesuksesan orang tersebut atau akan hal yang telah dicapainya, bukan akan seberapa keras usahanya untuk mencapai hal tersebut (kita juga terkadang tidak tahu persis perjuangannya untuk mencapai hal yang dicapainya sekarang). Kita akan mudah merasa kagum terhadap orang-orang yang sudah mencapai sesuatu atau sukses dalam hidupnya, serta pada apa yang telah dicapainya. Walaupun kita cenderung mudah fokus akan kesuksesan orang lain, tetapi tidak sedikit orang yang ketika sedang berjuang untuk meraih kesuksesannya sendiri, lebih fokus akan masalah atau tantangan yang (sedang atau akan) dihadapinya bukan kepada kesuksesannya. Padahal, jika kita bisa fokus melihat kesuksesan orang lain, daripada kita fokus melihat masalah, tantangan, atau hambatan yang akan atau sedang dihadapi, kenapa kita tidak bisa fokus melihat kesuksesan diri sendiri? Bukankah dengan kita fokus melihat kesuksesan atau goal yang ingin dicapai, dapat membantu atau memotivasi diri kita sendiri berusaha untuk mencapai goal tersebut? Malah mungkin sebenarnya kita lebih memerlukannya dibandingkan orang lain.:)

Comments

Popular posts from this blog

Hari Ini Adalah Hadiah yang Harus Dinikmati

Langkah Selanjutnya Setelah Mengambil Keputusan (Part 1)

Terima Kasih Tubuh